STATUS EPILEPTIKUS

1) DEFINISI: kejang > 5 menit, bisa kontinyu dalam 5 menit, atau terjadi 2x/lebih tapi kesadaran tidak pulih

Ada dua jenis: konvulsif dan non-konvulsif.

Definisi per jenis epilepsi melihat dari: 

t1: waktu status epileptikus di mana kejang dianggap abnormal memanjang dan harus diterapi

t2: waktu status epileptikus yang dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang

Menurut ILAE:                t1                        t2

Tonic clonic SE            5 min                    30 min

Focal SE dg DOC        10 min                > 60 min

Absence                     10-15 min             unknown


2) KLASIFIKASI

Klasifikasi SE berdasarkan: 

  • semiologi (gerakan prominen dan kesadaran)
  • etiologi (simtomatik/idiopatik)
  • EEG
  • usia (neonatal, infant, childhood, adult, elderly)

STATUS EPILEPTIKUS
  • Konvulsif (GTCSE)
  • Nonkonvulsif (NCSE)
    • focal
      • simple (no DOC)
      • complex (with DOC)
    • general ~ absence
      • typical
      • atypical
Subtle SE: gerakan dikit-dikit

NCSE dicurigai jika:

  • general tonic clonic yang post ictal memanjang
  • subtle signs
  • tidak ada sebab lain
  • riwayat kejang
NCSE apa bukan? Salzburg consensus/criteria dalam jurnal ini:

Underlying: delirium pada lansia, lansia perempuan, withdrawal benzo.

Untuk menyingkirkan DDx: lab dan MRI/CT (akut).


3) TATALAKSANA SE KONVULSIF: 

a) TERMINASI

Versi Buku Epilepsi Perdossi 2019 di bawah ini:



Pilihan obat loading lain untuk status epileptikus di fase II:
  • Perampanel 24 - 32 mg 
  • Topiramat 200-400 mg 
Note: Obat loading fase II bisa dipakai bergantian jika masih belum berhenti dan tidak memungkinkan penggunaan obat anestesi.

Obat anestesi:


Tatalaksana SE refrakter (istilah ini bisa digunakan baik untuk SE konvulsif maupun nonkonvulsif):


Immunomodulator berdasarkan artikel ini
  • First line: 
    • plasma exchange (pada umumnya 5 sesi)
    • kortikosteroid (umumnya metilprednisolon IV 1000 mg/hari selama 5 hari) => 1 g/hari, 1x/minggu selama 4-6 minggu ATAU prednison oral 80 mg/hari taper off lambat 
    • IVIg (0,4 g/kg/hari selama 3-5 hari, dapat diulang mingguan/bulanan selama 1-3 bulan)
  • Second line:
    • cyclophosphamide (750 mg/m2)
    • rituximab (pada umumnya 375 mg/m2/minggu selama 4 minggu)
    • mikofenolat (250 mg-2g/hari)
    • azatioprin (1-3 mg/kg/hari)

Pertimbangan farmakokinetik obat-obatan yang digunakan pada status epileptikus, lihat artikel ini.

b) CEGAH BERULANG

Mengapa pasien diloading masih kejang? Sepsis, hipoalbuminemia, half dose.

c) TX ETIOLOGI

d) TANGANI KOMPLIKASI


4) MANAJEMEN NCSE (jika setelah konvulsif SE, masih altered consciousness dan EEG-nya masih berubah)

a) continuous infusion: phenobarbital, propofol, ketamin

b) non continuous infusion: phenytoin, valproat, fenobarbital

  • valproat:  loading 20-40 mg/kg

c) per NGT

  • topiramat loading 200-400 mg (6-9 mg/kg) 3 hari (?), maintenance 200-600 mg/hari BID, dose adjusment pada gangguan renal dan liver
  • klobazam



5) Istilah-istilah lain: 

REFRACTORY SE: jika obat-obat 1st line dan 1 obat 2nd line tidak membaik (SUPER REFRACTORY jika > 24 jam dan masuk obat anes tidak membaik, menggunakan high dose phenobarbital atau hypothermia, tapi pada umumnya sangat sulit dikontrol)

New onset SE: tidak ditemukan kausa pada orang yang sebelumnya sehat, bisa karena paraneoplastic, autoimun, infeksi, serebrovaskuler  => mungkin butuh LP


6) PROGNOSIS: mortaliti 17-23%, refractory SE up to 50%

STATUS EPILEPTIKUS SEVERITY SCORE >> prediksi outcome. 

Cut-off point survival vs death: >= 3 (di buku Epilepsi, 2019, 3-6 prognosis buruk)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENINGITIS TB

TERAPI EPILEPSI (ANTI SEIZURE MEDICATION/ASM)