OBAT-OBATAN STATUS EPILEPTIKUS PADA GANGGUAN LIVER DAN GINJAL
Profil farmakokinetik obat-obatan status epileptikus, berdasarkan review ini.
1. BENZODIAZEPIN
Farmakodinamik: meningkatkan efek inhibisi GABA pada reseptor GABA-A
First line: lorazepam, karena 1) durasi kerja lebih panjang 2) tidak ada perbedaan depresi napas antara lora- dan diazepam 3) metabolismenya paling sedikit dipengaruhi gangguan hepar dibanding benzo lainnya => 1st line pada gangguan liver
a) Lorazepam
85% terikat dengan protein plasma
half life 12-16 jam, bisa sampai 70 jam pada ESRD
dimetabolisme sebagian besar di liver => diekskresi via urin
tidak direkomendasikan pada gangguan liver berat, mungkin membutuhkan adjustment dosis pada gangguan liver ringan-sedang
klirens tidak berbeda signifikan antara subjek sehat dengan CKD
b) Diazepam
> 98% terikat dengan protein plasma
half life 30 jam (20-100 jam), meningkat 2-5 kali lipat pada sirosis ringan-sedang
dimetabolisme sebagian besar di liver => hanya sedikit yang diekskresi di urin dalam keadaan unchanged
pada pasien gangguan liver: klirens menurun, konsentrasi plasma obat dan metabolitnya meningkat
kontraindikasi: gangguan liver berat
pengurangan dosis diperlukan pada gangguan liver akut/kronis, dan titrasi berdasarkan respons dengan dosis awal lebih kecil juga dibutuhkan pada GFR < 20
diazepam tidak terdialisa => tidak membutuhkan dosis tambahan pada pasien HD
c) Midazolam
midazolam merupakan benzo yang bisa diinfus jangka panjang tanpa akumulasi sehingga digunakan pada SE refrakter/super refrakter
98% terikat protein plasma
dimetabolisme di usus dan hepar menjadi metabolit yang aktif secara farmakologis => < 1% diekskresi 'utuh' dalam urin
dapat terakumulasi pada gangguan liver: pada sirosis sedang-berat, klirens plasma menurun 40% dan half life meningkat 2x lipat => dosis harus dikurangi
tidak direkomendasikan pada gangguan liver berat
pada CKD: fraksi obat bebas meningkat 2x lipat dan metabolit aktifnya terakumulasi. Wajib dititrasi perlahan pada pasien dengan GFR < 10
midazolam tidak terdialisa => tidak membutuhkan dosis tambahan pada pasien HD
d) Clobazam
terapi adjunct untuk LGS pada pasien usia 2 tahun lebih, digunakan juga pada epilepsi refrakter karena tolerabilitas yang baik dan efek jangka panjang
bioavailabilitas: 87%
mencapai konsentrasi max dalam 1-4 jam
bisa berkurang konsentrasinya sampai 50% oleh carbamazepin, phenytoin, dan phenobarbital
dimetabolisme hepar => ekskresi renal
half life 36 jam (metabolit aktif: 42 jam)
belum cukup bukti untuk SE, namun mungkin dapat menjadi add-on dengan dosis yang disarankan 10-60 mg/hari
gangguan liver tidak memiliki efek major pada klirens clobazam maupun kadar plasma metabolitnya
tidak membutuhkan adjustment dosis pada gangguan liver
tidak ada data penggunaan clobazam pada gangguan renal
penggunaan clobazam sangat terbatas pada pasien tidak sadar
e) Clonazepam
bioavailability: 90%
mencapai konsentrasi max dalam 1-4 jam
85% terikat protein plasma
sebagian besar dimetabolisme => < 2% diekskresi 'utuh' di urin
half life: 30-40 jam
pada gangguan liver: kurang data
pada gangguan ginjal: tidak butuh adjustment dosis
2. FENITOIN/FOSFENITOIN
Fenitoin adalah derivat hidantoin yang memblok aktivasi kanal natrium voltage-gated => mengurangi firing neuron. Fosfenitoin adalah prodrugnya yang larut air, bisa diinfus lebih cepat dari fenitoin untuk menghindari flebitis berat karena vehikulumnya bukan propilen glikol, tapi fosfenitoin itu mahal. (Keterangan di bawah hanya untuk fenitoin)
90% terikat albumin
dimetabolisme di hepar => <5% dari fenitoin diekskresi 'utuh' dalam urin
enzime inducer
pada pasien gangguan liver dan renal, juga hipoalbuminemia, rasio fenitoin bebas/total meningkat, tetapi tidak terlalu jauh berubah => tetap dimonitor fraksi obat bebasnya, tetapi biasanya tidak membutuhkan adjustment dosis
Komentar
Posting Komentar