IMAGING PADA STROKE
CT scan kepala tanpa kontras: imaging awal. Mudah diakses. Yang dicari pada stroke iskemik:
- hipodens pada daerah yang infark
- hilangnya batas grey-white matter (irreversible): batas insula kabur, densitas basal ganglia kabur
- edema (sulcal effacement), kalo ada ini masih reversible
- MCA sign (dense artery sign)
- arteri yang ada emboli terkalsifikasinya
Termasuk ASPECT score
CT scan paling cepat melihat iskemik stroke pada onset 12 jam.
ICH: hiperdensitas, tapi kalo SAH kurang reliable => lanjut LP
MRI:
Karena daerah iskemia banyak mengandung air, di T1 jadi hipointens, T2 hiperintens dan semakin jelas batasnya (makin hipo-/hiper-) setelah lewat beberapa hari.
Sekuens DWI disebut juga stroke sequence (iskemik). Melihat difusi (yang sering terjadi pada edema sitotoksik, perpindahan cairan dari ekstrasel ke intrasel), tulangnya dibuang karena tidak ada difusinya. Pada 20 menit pertama onset sudah terlihat kalo ada kelainan. Pada stroke, difusinya terhenti. makanya gambar putihnya terbatas dan terlihat. Namun pada ADC, jadi gelap/hipointens
FLAIR membantu mengenali kandidat trombolisis jika onset tidak diketahui. Kalau DWI-nya ada lesi dan tidak ada hiperintensitas pada FLAIR => kandidat. Jika ada hiperintensitas pada FLAIR => exclude (karena hi-bleeding risk).
MRI lebih utama pada TIA
Perdarahan: lihatnya pake SWI, darah => hipointens. Microbleed, trombus intraarteri/vena dapat terlihat dengan gradient recalled echo (GRE) pada T2.
CTA atau MRA?
MRA lebih baik dalam melihat flow, sedangkan CTA lebih baik dalam melihat anatomi
Imaging Perfusi (CT/MR perfusi)
Jika hendak dilakukan trombektomi, kalo volume core dan penumbra hampir sama maka trombektomi tidak bermanfaat
Komentar
Posting Komentar