JAPANESE ENCEPHALITIS

 1) EPIDEMIOLOGI

Awalnya di Jepang, kemudian menjadi banyak di Asia. Penyakit endemik di Indonesia. Sering menyerang anak-anak.

Kejadian JE pada manusia akibat terinfeksi virus JE < 1%, 20-30% kasus fatal, 30-50% kasus cacat permanen. Diperkirakan terjadi 50.000 kasus dan 15.000 kematian tiap tahun


2) ETIOLOGI

Virus Japanese Encephalitis: virus RNA genus Arbovirus - Flavivirus

Siklus hidup:

  • Host: burung rawa-rawa (bangau, kuntul)
  • Host amplifier: babi (saat virus menginfeksi babi, terjadi peningkatan populasi virus yang cepat => viremia => sumber infeksi bagi nyamuk dan menularkan ke manusia)
  • Vektor: nyamuk Culex tritaeniorhyncus, menggigit burung rawa-rawa, babi, dan manusia yang kebetulan hidup berdekatan. Larvanya banyak di area persawahan

3) PATOGENESIS
Manusia digigit nyamuk yang terinfeksi => virus masuk ke sistem retikuloendotelial => menumpang limfosit T => berikatan dengan endotel => endositosis menembus sawar darah otak => replikasi dan berkembang sempurna di sistem neuron sekretorik => kematian sel saraf setelah multiplikasi virus. Dapat juga menyebabkan kongesti, edema, perdarahan otak, dan menimbulkan inflamasi masif dari peningkatan reactive oxygen species dan sitokin proinflamasi (IL-6, TNF-alfa, MCP1)

4) PREDILEKSI
  • hipotalamus
  • talamus
  • hipokampus
  • substansia nigra
  • med. oblongata

5) DIAGNOSIS
a) MANIFESTASI KLINIS
Sebagian besar asimtomatik. 1% menimbulkan gejala SSP. Masa inkubasi 5-15 hari
  • ensefalitis akut: demam, perubahan status mental (confusion hingga koma), kejang, iritabilitas, tingkah laku abnormal
  • meningitis aseptik
  • demam tidak spesifik
  • gejala klasik: Parkinsonisme (muka topeng, tremor, rigiditas, koreoatetosis). Penanda prognosis buruk: opistotonus, rigiditas, spasme
  • gejala batang otak: perubahan pola napas, postur abnormal (fleksor, ekstensor)
  • paralisis nervus fasialis supranuklear, paralisis flasid akut, GBS
Fase penyakit: prodromal => ensefalitis akut => konvalesen

b) PENUNJANG
  • Lab darah: tidak spesifik
  • CSF: pleiositosis (10-100 sel/mm3) dominan limfosit, peningkatan protein ringan (50-200 mg%), glukosa normal
  • MRI: lesi sesuai predileksi
  • EEG: koma teta delta, burst suppression, epileptiform, koma alfa

Diagnosis definitif: pemeriksaan IgM JE virus pada CSF atau serum pada pasien dengan ensefalitis

Klasifikasi kasus:
  • Suspek: menunjukkan gejala ensefalitis akut
  • Confirmed: terkonfirmasi dengan pemeriksaan lab
  • Probable: jika mempunyai hubungan dengan kasus confirmed dalam kondisi KLB

6) DIAGNOSIS BANDING
  • ensefalitis penyebab lain
  • infeksi sistemik dengan manifestasi SSP (misalnya tifoid)
  • noninfeksi

7) TATALAKSANA
simtomatik dan suportif

8) KOMPLIKASI
  • status epileptikus
  • hipoksia
  • peningkatan TIK
  • herniasi
  • pneumonia aspirasi => prognosis buruk => kematian

9) PROGNOSIS

Persentase kematian 30%. Sebagian besar yang bertahan hidup mengalami kecacatan neurologis berat seperti kelemahan UMN, gejala serebelar, ekstrapiramidal, kognitif.


Sumber: Buku Neuroinfeksi sampul hijau

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENINGITIS TB

TERAPI EPILEPSI (ANTI SEIZURE MEDICATION/ASM)