STATIN PADA STROKE

Statin memiliki efek pleiotropik yang mungkin bermanfaat pada stroke iskemik, tetapi mungkin efek pleiotropik ini dapat menyebabkan peningkatan risiko ICH (terutama dengan riwayat stroke ICH sebelumnya), dengan uji klinis paling terkenal tentang ini adalah SPARCL trial (2006). Kolesterol rendah dapat terkait dengan peningkatan risiko ICH, tetapi hal ini dirancukan oleh faktor risiko lain yang muncul pada kelompok dengan kolesterol rendah, misalnya konsumsi alkohol, penyakit liver, dan hipertensi.


Selain menurunkan kolesterol, statin memiliki efek pleiotropik sebagai HMG-KoA reduktase inhibitor:

- meningkatkan NO => vasodilator 

- menghambat aktivitas platelet

- berinteraksi dengan kaskade koagulasi, misalnya dengan upregulasi PAI-1 (plasminogen activator inhibitor-1) 

yang mungkin saja dapat meningkatkan risiko perdarahan secara moderat. 


Pada SPARCL trial, high-intensity statin (atorvastatin 80 mg) menunjukkan peningkatan risiko ICH seiring dengan menurunnya level kolesterol. Namun, hal ini dirancukan dengan bias indikasi: pasien yang diberikan high-intensity statin biasanya memiliki faktor risiko lain untuk ICH. Risiko stroke hemoragik pada pasien yang diterapi statin dalam uji ini meningkat pada pasien dengan stroke lakuner (~CSVD) dibanding pada large artery atheroembolic stroke.

Terdapat penelitian lain yang menyebutkan bahwa terapi statin meningkatkan risiko ICH lobar pada pasien dengan genotip ApoE4/E4, gen yang terkait dengan cerebral amyloid angiopathy. 


Penghentian statin mendadak dapat menyebabkan efek rebound yang meningkatkan strek oksidatif dan mengganggu fungsi vaskuler. 

"Through HMG CoA-reductase inhibition, statin treatment leads to the accumulation of small G proteins, such as rho and rac, in a nonisoprenylated, inactivated form in the cytosol. At the same time, because of a negative feedback regulation, they become upregulated and accumulate in the cytoplasm. At the moment when statin treatment is discontinued, isoprenoids such as geranylgeranylation or farnesylate become available, bind, and activate small G proteins. In turn, these small G proteins switch to an active and membrane-bound state leading to overshoot activation of NADPH oxidase or downregulation of endothelial nitric oxide synthase."


Terapi statin bahkan mungkin dapat bermanfaat pada keluaran ICH, sementara penghentian mendadak dapat meningkatkan mortalitas. Saat ini, lebih banyak bukti mendukung bahwa statin tidak meningkatkan risiko ICH (atau bahkan menurunkannya). Jika memang statin meningkatkan risiko ICH pun, maka hal itu terbatas pada pasien dengan riwayat stroke sebelumnya (iskemik atau hemoragik).


Sumber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENINGITIS TB

TERAPI EPILEPSI (ANTI SEIZURE MEDICATION/ASM)