SPONDILITIS TB
1. PATOGENESIS - PATOFISIOLOGI
Penyebaran tuberkulosis ke tulang belakang dapat melalui
- hematogen, untuk vertebra yang berdekatan melalui arteri vertebralis
- limfogen
- penyebaran langsung melalui ruang diskus
- melalui ligamentum longitudinal anterior/posterior (jika terdapat abses paravertebral)
- fasia
Yang terkena adalah bagian vertebra yang dekat diskus intervertebralis, dan tulang vertebra yg berdekatan pasti akan kena sehingga spondilitis TB umumnya tidak hanya 1 korpus.
2. GEJALA DAN TANDA
Gejala muncul 3-5 bulan post infeksi primer.
- Nyeri lokal akibat stres mekanik vertebra, bersifat dalam seperti dibor berkurang dengan tirah baring. Bisa radikuler juga.
- Paraparese UMN umumnya level torakolumbal (umumnya lesinya torakal bawah-lumbal atas). Varian: Spondilitis servikal bs menyebabkan tetraparese, lesi lumbal bawah menyebabkan sindrom konus medularis/kauda ekuina, kompresi radiks dapat menyebabkan radikulopati atau mielopati. Dapat juga menimbulkan parese LMN atau gambaran klinis multisegmen nonkontinu (dua/lebih lokasi lesi dengan gambaran klinis tumpang tindih). Sensorik dan otonom juga bisa terpengaruh.
- Gibus itu patognomonis! Karena ini menunjukkan kalau kenanya di bagian anterior korpus vertebra.
3. PENUNJANG
- Lab:
- Peningkatan LED, CRP
- Tes tuberkulin positif
- Jika didapatkan TB paru akut: pada pus dan sputum akan didapatkan M.Tb (+) (TCM atau kultur)
- GOLD STANDARD: kultur biopsi lesi vertebra didapatkan M.tb.
- X-ray vertebra
- destruksi litik bagian anterior korpus (1-3 korpus yang berdekatan), pedikel intak >< tumor (pedikelnya yang hilang)
- kolaps korpus vertebra
- dislokasi tulang vertebra
- penipisan/destruksi diskus intervertebralis dengan tepi tidak rata
- bayangan paravertebral fusiformis (abses) seperti di bawah.
Imaging yang paling bagus: MRI vertebra karena dapat melihat tulang maupun jaringan lunak, juga bisa mengevaluasi penyebaran di bawah ligamen anterior-posterior. MRI juga bisa membedakan spondilitis TB dan piogenik dari destruksi vertebra dan kompresi myelum.
4. DIAGNOSIS BANDING
- Spondilitis piogenik: demam, sklerotik enhancement yang jelas pada lesi, lesi paravertebral kecil, ekstensi epidural
- Osteoporosis: nyeri punggung karena trauma minor, densitas tulang menurun
- Metastasis: nyeri tulang malam hari, nyeri punggung radikuler, klinis keganasan, lesi litik/sklerotik, lesi pada korpus & posterior vertebra, halo sign (batas hiperintens pada MRI T2-weighted), diskus baik, pedikel hilang
5. TATALAKSANA
- ERADIKASI INFEKSI dengan OAT yang diberikan selama 9-12 bulan.
- R 10 mg/kg/hari max. 600 mg/hari
- H 5 mg/kg/hari atau 300 mg/hari diberikan bersama vitamin B6
- Z 25 mg/kg/hari atau 1500 mg/hari dibagi 2 dosis
- E 15 mg/kg/hari atau 750 mg/hari
- S 15 mg/kg/hari atau 750 mg/hari, total pemberian 56x.
- Tatalaksana nyeri: NSAID, opioid lemah (kodein, tramadol) => kuat (morfin, oksikodon), jika kronik => TCA/anti kejang, fisioterapi
- Konsul Ortopedi untuk pembedahan
- indikasi operasi, tapi kalau di Ortopedi RSSA biasanya tidak ada tindakan jika belum dilakukan umbrella therapy TB selama 14 hari.
- defisit neurologis memberat,
- instabilitas tulang belakang,
- pasien tidak patuh minum obat,
- tidak ada respons dengan medikamentosa,
- abses paraspinal luas,
- diagnosis belum jelas (untuk biopsi)
- kontraindikasi operasi:
- prolapsnya tdk besar (< 50% korpus kolaps)
- deformitas tulang blkg < 5 derajat
- teknik:
- debridemen radikal fokal anterior
- stabilisasi posterior. Ketika pembedahan jika didapatkan lesi yang mengarah ke metastasis, saat stabilisasi posterior sekalian dieksisi/dibiopsi
- dekompresi
- fusi menggunakan instrumentasi tulang belakang anterior
- alograf dari fibula
- Fisioterapi: tujuannya untuk mencegah fraktur, dekubitus, dan deformitas. Diberikan ortose korset torakolumbal
Referensi: Modul Neuroinfeksi
Notes:
1. Cara menyebutkan topis pasien dengan spondilitis TB: topis setinggi struktur apa (myelum? radiks?), secara longitudinal berapa (mis. thorakal/lumbal berapa)

Komentar
Posting Komentar