OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA (OSA)
Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan salah satu penyakit dalam kelompok Sleep-Disordered Breathing.
1) PATOFISIOLOGI
- Penurunan tonus termasuk otot pernapasan. Bisa disebabkan oleh gangguan rahang => obstruksi. Bisa terjadi pada usia tua untuk perubahan tonus otot (kendor) terutama otot napas, atau akibat kegemukan yang berjalan bersama penuaan
- Atrial natriuretic peptide tersekresi dari myosit jika terjadi hipoksia => nokturia
- Partial arousal sering terjadi pada OSA sehingga memicu munculnya gangguan tidur NREM. Gangguan pada premotor-motor cortex (premotornya off, motornya on), juga disosiasi tidur bangun => somnambulisme
- OSA biasanya juga diiringi sleep maintenance insomnia.
- hipoksia intermiten, teraktivasi renin angiotensin, jalur inflamasi → gangguan pada vaskuler => stroke
2) SKORING
- Snoring score

- STOP BANG

3) WORKUP: Utamanya PSG. PARAMETER PSG KHUSUS OSA (diambil dari buku Pokdi Sleep, 2018 dan Principles of Sleep Medicine, 2017)
- Apnea: henti napas selama 10 detik atau lebih
- Hipopnea: sumbatan parsial saluran napas atas yang disertai desaturasi oksigen minimal 3% atau diikuti arousal selama minimal 10 detik
- RERA: singkatan dari 'respiratory effort/event-related arousal', yaitu rangkaian pernapasan berdurasi ≥ 10 s yang dicirikan dengan peningkatan usaha respirasi atau dengan pendataran porsi inspirasi dari gelombang tekanan nasal (studi diagnostik) atau PAP device flow yang menyebabkan bangun dari tidur, di mana rangkaian pernapasan tersebut tidak memenuhi kriteria apnea atau hipopnea
- Apnea-hypopnea index (AHI): rerata jumlah apnea dan hipopnea per jam tidur dengan level keparahan:
- 5-14: mild sleep apnea
- 15-29: moderate sleep apnea
- > 30: severe sleep apnea
- Respiratory disturbance index (RDI): jumlah apnea, hipopnea, dan RERA per jam tidur
- Normal: RDI < 5 kali/jam
- OSA ringan: RDI ≥5- <15kali/jam
- OSA sedang: RDI ≥15- ≤30 kali/jam
- OSA berat: RDI > 30 kali/jam
Notes:
- PSG ulang bisa dilakukan setelah 3 bulan
- HSAT (Home sleep apneu test) adalah PSG tipe 2 atau 3 (tidak terlalu lengkap parameternya), kalau yang di RSSA tipe 1
- Pastikan ke THT untuk melihat obstruksi, bisa dilakukan sleep endoskopi untuk melihatnya (diperiksa ketika drowsy-sleep).
4) DIAGNOSIS BANDING
Upper airway resistance syndrome (UARS). Bedanya dengan sleep apneu, PSG UARS tidak memenuhi kriteria hypopneu dan apneu, tapi klinisnya sama.
- CPAP. Indikasi:

PSG ulang dapat mengetahui apakah positive airway pressure masih diperlukan. PSG bisa diulang 3 bulan setelah tindakan.
- Untuk insomnia, hindari benzodiazepin. Obat GABAergic adalah obat untuk NREM sleep disorder, tapi harus hati-hati digunakan pada pasien dengan sleep apneu karena memicu apneu. Pakai DORA (dual orexin receptor antagonist, misalnya lemborexant), melatonin, atau Z-drugs (bekerja di selektif di subunit alfa-1 benzo receptor jadi efek muscle relaxantnya lebih rendah dan aman untuk OSA).
- REM sleep supressant seperti antidepresan dapat digunakan jika obstruksinya lebih sering terjadi saat REM
- Jika ada terapi operatif, maka 2-3 bulan post-op akan dilakukan PSG ulang
- oral appliance untuk pasien dengan OSA risk mild
- KIE:
- Penurunan BB 20% dapat menurunkan snoring
- Pasien OSA harus diobservasi. Kalau apneu tanpa usaha napas, berbahaya, maka harus dibangunkan supaya apneunya tidak menyebabkan cardiac arrest
Pembedahan jika:
- AHI moderate severe
- obstruksi jalan napas berat
Komentar
Posting Komentar