CHOREA - ATHETOSIS - BALLISMUS
DEFINISI:
Chorea: suatu sindroma yang terdiri dari gerakan involunter yang tidak teratur, tak dapat diduga, singkat, tersentak-sentak, meloncat-loncat dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain
Atetosis: bentuk chorea yang lambat, seperti menggeliat menyerupai distonia (beda dengan distonia: gerakan sulit diduga, pola berulang, menyakitkan)
Balismus: chorea yang kasar, amplitudo tinggi, gerakan kuat, nampak seperti gerakan melempar
1. CHOREA
a) Klasifikasi: primer dan sekunder
b) Patofisiologi: Basal ganglia neurotransmitternya: GABA, dopamin, ACh, glutamat. Striatum berinteraksi dengan korteks motorik melalui jalur direk (memfasilitasi gerakan) dan indirek (menghambat gerakan). Gangguan jalur indirek (struktural/neurokimia) menimbulkan hiperkinetik.
c) Gambaran klinis:
- stadium awal: menyentak yang cepat pada jari, mulut, kaki
- lanjut: amplitudo lebih besar sehingga selalu bergerak ketika terjaga
- lanjut: gerakan seperti menulis lebih lambat (chorea-atetosis)
- lanjut: distonia, postur tubuh terputar
- progresivitas rigiditas dan distonia dapat dipicu terapi chorea dengan neuroleptik yang terlalu agresif
Sydenham's chorea: usia anak-anak, terkait demam rematik
d) Algoritma Etiologi:
3. BALLISMUS
a) Etiologi: 1) stroke 2) hiperglikemia nonketotik merupakan etiologi paling sering pada hemibalismus
b) Patofisiologi: adanya lesi pada basal ganglia. Lesinya bisa di nukleus subtalamik-globus palidus interna (menurunnya eksitasi globus palidus interna akan menyebabkan perubahan disinhibisi pada talamus => meningkatnya aktivasi motor => hiperkinetik) dan putamen.
c) Tatalaksana:
- Berdasarkan etiologi, jika struktural => simtomatis dengan dopamin reseptor bloker, tetapi dopamin depleting agent mempunyai risiko tardive lebih rendah. Beberapa obat lain: valprat, gabapentin, benzo, THD
- Fungsional neurosurgery dapat dipertimbangkan jika hemibalismus tidak dapat diatasi dengan terapi medis sesudah 6 bulan dari onset. Pilihan utama: palidotomi globus palidus interna, talamotomi.
- DBS pada globus palidus internus dan talamus juga bisa memberikan hasil yang baik.
d) Prognosis: Pada umumnya remisi spontan, maka manfaat terapi medis sulit dievaluasi.
4. DOSIS-DOSIS OBAT (dari sini)
a) Dopamine-depleting agents
- Tetrabenazine: 12,5 mg (dosis awal) bisa naik tiap minggu hingga 3-4 x sehari. (Dosis 100 mg biasanya sudah menimbulkan efek samping
- Deutetrabenazine: 6-40 mg/hari
- Valbenazine: 40, 80 mg/hari
b) Dopamine D2 receptor blocking agents
- Neuroleptik tipikal: Haloperidol: 0,05 mg/kg/day: 3.
- Neuroleptik atipikal:
- Clozapin: 150 mg/hari
- Olanzapin: 5- 30 mg/hari
c) Antikonvulsan:
- Asam valproat: 2 x 125 mg, 3 x 500 mg (dua-duanya ini dikombinasi dengan olanzapin 10 mg dan 5 mg berturut-turut), 15-20 mg/kg/hari dibagi 2-3 kali
- Carbamazepin: 15-20 mg/kg/hari dibagi 2
- Clonazepam: 2-4,5 mg/hari
- Levetiracetam: 500-3000 mg/hari
d) Anti-glutamatergik
- Amantadin: 100 mg/hari
- Riluzole: 200 mg/hari
e) Cannabinoid => nabilone: 1, 2 mg/hari
++
soal unsri no 1:
chorea ballismus:
mri kalo gambaran nya periventrikel dengan kecil bintik2 → CSVD
mri hiperintens basal ganglia bilateral → hiperglikemik
ct putih2 banyak nyebar → fahr disease
sering keluar soal nama lain dari penyakit!
Hemibalismus: mri bisa ditemukan stenosis atau microbleed

Komentar
Posting Komentar