JALUR NYERI
Kerusakan jaringan lokal => rusaknya membran sel (fosfolipid). Fosfolipid à (diubah oleh fosfolipase) menjadi asam arakhidonat à (diubah oleh cyclooxygenase) menjadi prostaglandin, bradikinin. Prostaglandin, tidak serta merta menjadi nyeri, tetapi ada serangkaian release neurotransmiter dulu sebelum muncul nyeri.
Jalur nyeri adalah LATERAL SPINOTHALAMIC TRACT.
Ascending: [free nerve ending menerima rangsang nyeri, afferent fibernya adalah serabut A yang sedikit bermyelin 'penghantar cepat' dan serabut C yang tidak bermyelin 'penghantar lambat'] => berjalan ke spinal cord, memasuki dorsal horn, substantia gelatinosa* (1st order neuron yang melepaskan substance P) dan langsung menyilang di level penerimanya (lateral funiculus sisi satunya) => [spinal cord, brainstem] => thalamus (2nd order neuron) => somatosensory cortex (3rd order neuron)
*substantia gelatinosa: massa neuroglia + neuron kecil yang berbentuk bulan sabit di ujung paling posterior dari dorsal horn.
Descending: ada neuron dari periaqueductal grey matter (midbrain, respons terhadap opioid) => turun ke nucleus raphe magnus (medulla oblongata) (1st order neuron) lalu melepaskan serotonin => turun ke tempat di mana 1st order neuron ascending dan 2nd order neuron ascending bersinaps, yaitu substantia gelatinosa (2nd order neuron), fungsinya adalah untuk menghambat penghantaran nyeri di jalur ascending. Neurotransmiter yang berperan adalah serotonin dan noradrenalin.
Neuron dari descending pathway juga menstimulasi interneuron di substantia gelatinosa => enkephalin => menghambat 1st order neuron melepas subst. P dan menghambat depol 2nd order neuron.
Mekanisme inhibisi desenden:
- Sistem opioid: amigdala, hipotalamus, PAG, rafe magnus, kornu dorsalis
- Sistem noradrenergik: lokus seruleus, medula, pons, funikulus dorsolateral
- Sistem serotonergik: nukleus rafe magnus
Model transduksi - transmisi - modulasi - persepsi:
Transduksi: stimulus bahaya => arus listrik dengan bantuan nosiseptor dengan diperantarai neurotransmiter eksitatorik.
Transmisi: penghantaran oleh serabut A-delta (nyeri tajam dan suhu) dan C (nyeri perlahan dan suhu) melalui neuron ordo 1-2-3
Modulasi: perubahan respons inhibisi atau fasilitasi terhadap nyeri (sisanya sesuai inhibisi desenden). Selain itu, nyeri dapat dikurangi dengan gate control theory = terjadi di kornu dorsalis, serabut aferen primer membuka pintu, serabut aferen selain nyeri menutup pintu dengan melakukan aktivasi interneuron inhibisi nyeri.
Persepsi: korteks serebri melakukan diskriminasi terhadap nyeri (korteks somatosensori primer dan sekunder, insula, korteks cingulata anterior => persepsi emosi, prefrontal).
Neurotransmitter dan ion-ion dalam proses nyeri:
Jaringan rusak => GLUTAMAT => reseptor AMPA => lepaslah ion Mg2+ dan Ca 2+ => aktivasi protein kinase C, pembentukan NO => lepaslah substansi P
Senyawa biokimiawi: ion H+, K, prostaglandin, bradikinin, histamin, serotonin
perubahan fisiologik reseptor NMDA dapat menyebabkan nyeri nosiseptif kronik
sensitisasi perifer melibatkan aktivasi berbagai kanal ion: TRPA1, TRPV1, TRPV4, kanal natrium, mekanosensitif PIEZO ion channel, protein kinase A dan C

Komentar
Posting Komentar