MALARIA SEREBRAL
x) ETIOLOGI: Plasmodium spp.(di antaranya adalah P. falciparum, P. vivax)
x) PATOFISIOLOGI:
Fase malaria serebral ada sekuestrasi (parasit masuk organ), sitoadherensi (menempel ke endotel), rosetting (sel darah merah terinfeksi menarik sel darah merah lain sehingga clumping => rosette). Rosette → parasit menyebabkan penurunan perfusi jaringan, terbuntu sama eritrosit terinfeksi
a) Anamnesis:
- trias malaria (menggigil, demam, berkeringat),
- DOC,
- kejang.
- gangguan neuropsikiatrik
- RF: pernah ke daerah endemik, riw. infeksi Plasmodium falciparum.
b) Pemfis:
- Neuro: DOC + gejala UMN (RP +, RF naik, tonus otot naik)
- Funduskopi: edema papil dan cotton wool spots.
c) Penunjang => apusan darah: Plasmodium falciparum aseksual (ring form/trofozoit).
Jika konfirmasi apusan darah > 1 jam, maka sementara diagnosis pake RDT atau langsung mulai antimalaria => karena emergensi!
Pemeriksaan lain: tes antigen (histidine rich protein, bisa untuk RDT atau drug sensitivity test), serologis, imaging menyingkirkan dx banding saja (pada malaria normal)
d) KRITERIA DIAGNOSIS: koma + didapatkan fase P. falciparum aseksual pada hapusan darah tetes tipis/tetes tebal + exclude lainnya
2) TATALAKSANA (Farmakologis)
a) artesunat IV 2.4 mg/kgBB (bisa IM) => 2.4 mg/kg IV atau IM setelah 12 jam. Selanjutnya setiap hari 2.4 mg/kgBB/hari selama minimum 3 hari sampai bisa minum obat anti malaria per oral.
Bimbingan dr. Badrul, Sp.S (K): 0-12-24 jam, lalu tiap 12 jam sampai bangun
b) artemeter IM 3.2 mg/kg IM pada hari pertama => diikuti dengan 1.6 mg/kg IM per harinya selama paling sedikit 3 hari hingga bisa minum obat. Gunakan semprit 1 ml untuk memberikan volume suntikan yang kecil.
Lini kedua: kina
Buku Modul Neuroinfeksi:
jika malaria tropika tanpa komplikasi, program nasionalnya: dihidroartemisinin (derivat artemisinin) + piperakuin (golongan aminokuinolin) = DHP + primakuin (dosis tunggal)
Komentar
Posting Komentar