EPILEPSI DAN PUASA RAMADAN

Rangkuman artikel ini:

Ada pasien yang karena mengalami ketosis akibat puasa, kejangnya jadi lebih terkontrol. Tapi ada juga yang semakin parah kejangnya, terutama pada pasien dengan kondisi metabolik atau tidak patuh ASM.


Perubahan metabolik akibat puasa Ramadan:

- tubuh bergeser dari penggunaan glukosa sebagai sumber energi primer => asam lemak dan badan keton => dapat menurunkan seizure threshold sehingga meningkatkan risiko kejang

- hipoglikemia merupakan pemicu kejang

- dehidrasi => gangguan elektrolit (hiponatremia, hipernatremia)

- sahur dan salat subuh => bisa membuat kurang tidur => kejang

- diet tinggi lemak tinggi protein yang mirip diet ketogenik mungkin bermanfaat mengurangi kejang 

- puasa meningkatkan laju inhibisi dari aktivitas neuron, sedangkan diet ketogenik mengurangi produksi epileptic discharge => ketika berjalan bersama dapat menimbulkan efek antiepileptik, tapi masih membutuhkan penelitian lebih lanjut

- perlu cek glukosa berkala, cek level elektrolit, perbaiki hidrasi di jam-jam tidak puasa


Kepatuhan pengobatan dan puasa

- contoh penyesuaian dosis saat puasa: yang awalnya 3x sehari bisa disesuaikan jadi 2x (sahur dan iftar/buka puasa), namun perubahan jadwal ini dapat mempengaruhi farmakokinetik obat dan mengurangi efikasi

CBZ 2x sehari => konsentrasi serumnya tidak berubah bermakna sebelum dan sesudah Ramadan => implikasi: bisa disesuaikan minum obatnya jadi 2x sehari

- pasien dapat tidak patuh pengobatan karena tidak mau membatalkan puasa => edukasi


Perubahan frekuensi kejang

- dapat meningkat atau menurun tergantung individu


Prediktor sukses puasa pada pasien epilepsi

- kejang terkontrol selama puasa

- regimen ASM stabil

- faktor gaya hidup lifestyle

- pola tidur


Dari sini

- ASM yang diminum 2x sehari bisa diubah jadwal minumnya jadi pas buka dan sahur

- obat-obatan seperti LTG dan LEV yang biasa dikasih 2x sehari bisa diberikan 1x sehari dengan dosis yang lebih besar

- tidak direkomendasikan memberikan dosis berikutnya dalam jarak kurang dari 6 jam

- obat-obatan seperti perampanel, ZNS, dan clonazepam bisa diberikan 1x sehari

Pasien dapat dibagi menjadi low-risk dan high-risk


Pasien dengan low/minimal risk:
- regimen yang tidak berubah pada saat puasa: lanjut saja
- regimen yang lebih dari 2x atau yang jamnya tabrakan sama waktu puasa: bisakah diganti jadi 1x/2x? Kalau bisa, disesuaikan dengan waktu puasa, tapi harus di-KIE ada risiko kecil kejang

Jika pasien risiko tinggi, apakah puasa > 12 jam?
- jika tidak: risiko tinggi, KIE risiko jika mau tetap puasa
- jika ya, tapi obat bisa disesuaikan dengan puasa (1x/2x sehari): risiko tinggi, KIE risiko jika mau tetap puasa
- jika ya dan obat tidak bisa disesuaikan dengan puasa (1x/2x sehari): sangat disarankan untuk tidak puasa karena risiko tinggi.


Komentar