MENINGITIS VIRUS (belum dirangkum)
1. EPIDEMIOLOGI
Anak-anak dan dewasa muda merupakan kelompok umur yang paling sering terserang ensefalitis, namun tingkat keparahan lebih banyak di kelompok bayi dan usia tua. Untuk tingkat kekambuhan paling sering adalah HSE (herpes simpleks ensefalitis) yakni sekitar 25%.
Ensefalitis Mumps lebih banyak mengenai laki-laki dibanding wanita karena laki-laki bekerja ditenpat yang kemungkinan tergigit nyamuk lebih tinggi dibanding di wanita.
Manifestasi klinik
Pada umumnya
ensefalitis ditandai dengan panas
yang bersifat akut , dan pada umumnya juga mengenai keterlibatan iritasi
leptomenigeal denga gejala sakit kepala, demam dan kaku kuduk). Selain itu juga
bisa menunjukan gejala defisit
neurologi fokal, kejang dan penurunan kesadaran yang dimulai dengan
letargia , konfusi, stupor dan koma,
Ensefalitis juga bisa
menyebabkan gangguan
perilaku dan berbahasa, namun gangguan gerak sangat jarang, bila
melibatkan hipotalamus atau pituitari dapat menyebabkan hipertermia
Gejala kilinis yang
spesifik untuk virus tertentu.
Encefalitis disebabkan
oleh karena arbovirus seringkali memunclkan gejala defisit fokal yang prominen, juga bisa menyebabkan keterlibatan medula
spinalis (ensefalomielitis)
Javanise encefalitis
sering ditandai dengan munculnya gejala ekstrapiramidal sindroma wajah seperti gerakan tremor,choreoatetosis, kepala cenderung
tertunduk dan rigid, kelemahan flasid khususnya ekstremitas bawah yang
disebabkan kerusakan dari kornu anterior
dari medula spinalis
Enfelatlis karena
enterovirus 71 ( Rhombenecephalitis) sering menimbulkan gejala mioclonus,
tremor, ataxia, parese nervus kranialis, neurogenik edema paru dan koma.
Encefalitis karena Nipah Virus disamping
memunculkan gejala klasik encefalitis juga sering menimbulkan gejala cerebelar dan batang otak
seperti mioklonis segmental, hipertensi yang berat, dan takhikardia.
Encefalitis virus nipah sering timbul 4 bulan setelah terpapar virus ini yang
mirip dengan fenotipe dari sub akut sklerosing panencefalitis (SSPE).
Encefalitis karena Zika virus selama
kehamilan sering menyebabkan mikrosefali
pada anak yang dilahirkan dan GBS (Francisco de Assis Aquino Gondim 2016)
Prognosis
Kematian pasien
encefalitis sangat tergantung dari agen penyebab ensefalitis itu sendiri.
Mortalits dari HSE 70% pada pasien yang tidak diterapi, dan kecacatan berat
bagi yang bisa hidup. Setelah ensefalitis WEE sequel jarang terjadi di pasien
dewasa namun sering terjadi di anak-anak, sequel tersering antara lain konsulsi
motorik, perubahan perilaku yang mengenai hampir separuh pasien anak-anak yang
terserang encefalitis WEE di bawah usia 1 bulan.
Komplikasi EEE lebih
sring mengenai pasien di atas 40 tahun yang bertahan hidup sedangkan pada
anak-anak di bawah 5 tahun dengan gejala sisa berupa retardasi mental, kejang
dan paralisis.
Mortalitas rendah ada
di Ensefalitis VEE, CE dan ensefalitis kolodaro tick fever, namun tingkat
mortalitas tinggi di ensefalitis JE yakni sekitar 50% pada pasien di atas 50
tahun dan 20% pada pasien anak-anak.
Penelitian yang
mengamati selama 20 tahun kejadian kejang tanpa provokasi sebanyak 22% di
pasien dengan ensefalitis virus yang berhubungan dengan kejang onset awal dan
10% pada pasien tanpa onset awal kejang. Secara umum tingkat kejadian epilepsi
paska infeksi ensefalitis berkisar
anatara 18-80% dengan epilepsi
refrakter.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik saja
sulit dijadikan untuk menegakan diagnosis. Encefalitis viral bisa menimbulkan
gejala neurologi fokal seperti opistototnus, parese, tremor, ataxia, hipotonia,
diplopia,
Peningkatan refleks dan
abnormal dari gerakan kadang muncul tremor,
ensefalitis juga bisa meningkatkan tekanan intrakranial dan papil edem
serta parese nervus cranialis
Gejala kilinis yang
spesifik untuk virus tertentu.
Encefalitis disebabkan
oleh karena arbovirus seringkali
memunculkan gejala defisit fokal yang prominen
juga bisa menyebabkan keterlibatan medula spinalis (ensefalomielitis),
Javanise encefalitis sering ditandai dengan munculnya gejala ekstrapiramidal sindroma wajah seperti gerakan tremor,choreoatetosis, kepala cenderung
tertunduk dan rigiditi, kelemahan flasid khususnya ekstremitas bawah yang
disebabkan kerusakan dari kornu anterior
dari medula spinalis
Enfelatlis karena
enterovirus 71 ( Rhombenecephalitis) sering menimbulkan gejala mioclonus,
tremor, ataxia, parese nervus kranialis, neurogenik edema paru dan koma.
Encefalitis karena Nipah Virus disamping memunculkan gejala klasik encefalitis
juga sering menimbulkan gejala cerebelar dan batang otak seperti mioklonis
segmental, hipertensi yang berat, dan takhikardia. Encefalitis virus nipah
sering timbul 4 bulan setelah terpapar virus ini yang mirip dengan fenotipe
dari sub akut sklerosing panencefalitis (SSPE). Encefalitis karena Zika virus
selama kehamilan sering menyebabkan mikrosefali pada anak yang dilahirkan (Francisco
de Assis Aquino Gondim 2016)
PATOFISIOLOGI
Mengetahui reseotor
virus di dinding sel untuk replikasi
siklus virus sesuatu yang sangat penting untuk memahami penyebaran virus,
trisme dan patogenesis. Berikut ini beberapa resetor virus yang penting untuk
diketahui
·
Virus measles- CD46
·
Virus Polio-CD 155
·
Virus Herpes Vrius Simplex
(HSV) –Heparin sulfate : Hve A,B, dan C. Tumor Necrosis factor reseptor
supervamili 14
·
Virus rabies – Achr=NCAM dan
NGRF
·
Virus HIV-CD4, CCR5/3 dan
CXCR4
·
Virus JV-Nlinked glycoprotein
dan 2-6 sialilic acid
·
Virus west Nile_
Cholesterol-rich membrean microdomiains
Penyebaran virus ke
susunan saraf pusat melalui 2 cara yaitu :
·
Penyebaran Hematogen
Penyebaran
hematogen merupakan penyebaran tersering, pada umumnya manuisa hanya host insidental dari
beberapa virus yang menyebabkan encefalitis. Host utamanya sering di hewan
seperti artoproda atau beberapa variasi hewan vetebrata khususnya burung dan
roden (hewan pengerat).
Infeksi
virus pertama kali sering di sistem
reticular endotelia dan otot, setelah virus bereplikasi kemudian menyebar ke
organ lain teramsuk CNS, dalam kondisi yang fatal pemeriksaan histopalatolgi
menemukan beberapa kelainan.
Pemeriksaan
gross didapatkan temuan radang meningieal, edema serebri, kogesti dan berdarahan
otak, sedangkan pemeriksaan mikros didapatkan leptomenigitis dengan infiltrasi
sel, perdarahan kecil diperivaskular, nodul lekosit atau mikroglia, demielinating akibat
kerusakan oligodendrosit atau keterlibatan sel ependimal yang menyebabkan
hidraencefali. Keruskan neuron tampak seperti chromatolisis dan neuronophagia.
Area nekrosis bisa sangat luas khususnya karena virus eastern equin
encephalitis (EEE) dan Japanese encephalitis (JE)
·
Penyebaran Retrograde neural
Penyebaran retrogade sangat penting untuk
mendeteksi patogen virus, rabies menyebar ke CNS melaui retrogede dari saraf
tepi, kemudian masuk ke dalam lobus temporal yang merupakan tropisme dan
menyerang ammon horn,
Herpes simples virus (HSV)
juga menyebar secara retrogade melaui nervus olfactorius dan masuk ke dalam lobus temporalis dan pons akan tetapi bisa
meluas.
Diagnosis banding
-
Acute Disseminated Encephalomyelitis
-
Acute Subdural Hematoma
-
Aseptic Meningitis
-
Basilar Artery Thrombosis
-
Benign Neonatal Convulsions
-
Cardioembolic Stroke
-
Cavernous Sinus Syndromes
-
Central Nervous System Complications in HIV
-
Cerebral Venous Thrombosis
-
Confusional States and Acute Memory Disorders
-
Epileptic and Epileptiform
Encephalopathies
-
Leptomeningeal Carcinomatosis
-
Meningococcal Meningitis
-
Neonatal Meningitis
-
Neonatal Seizures
-
Neurocysticercosis
-
Neurological Sequelae of Infectious
Endocarditis
-
Neurosarcoidosis
-
Neurosyphilis
-
Paraneoplastic Encephalomyelitis
-
Pediatric Febrile Seizures
-
Pediatric Status Epilepticus
-
Staphylococcal Meningitis
-
Subdural Empyema
-
Thrombotic Thrombocytopenic Purpura (TTP)
-
Tuberculous Meningitis.
Analisis LCS
Ensefalitis
Viral menghasilkan pleositosis limfositik, biasanya dalam kisaran 10 sampai 1.000 sel / mm3
dengan protein sedikit
meningkat dan glukosa
CSF normal. Leukosit PMN terkadang meningkat lebih dari 50% selama 24
sampai 36 jam dari infeksi,dan hal ini dapat berubah bila dilakukan LP ulang.
Pada
beberapa pasien dengan infeksi coxsackievirus dari SSP, leukosit PMN dapat
merupakan 90% dari sel-sel pada awal infeksi, dan dominasi PMN leukosit dapat
bertahan selama lebih dari 24 jam.
Protein
meningkat pada kisaran 50 sampai 100 mg / dL tapi kadang-kadang mungkin lebih
tinggi. Glukosa biasanya normal, tetapi penurunan glukosa ke tingkat mendekati
meningitis bakteri telah dilaporkan pada infeksi dengan HSV-2, herpes zoster
virus, mumps, dan limfositik virus choriomeningitis.
CSF
harus rutin dikirim untuk analisis PCR untuk enterovirus, termasuk parechoviruses dan HSV. Pada
pasien yang memiliki ruam vesikuler, virus varicella-zoster PCR juga harus
dikirim. Kedua CSF dan serum harus dibekukan untuk pengujian serologi masa
depan.
Persyaratan
untuk analisis CSF dalam kasus dugaan ensefalitis virus yang sama dengan
meningitis viral, dan temuan CSF seringkali sama. PMN leukosit mungkin ada
dalam jumlah besar di encephalitides parah disertai dengan kerusakan luas
jaringan otak. HSV klasik menghasilkan ensefalitis hemoragik. Namun, HSV tidak
unik dalam kemampuannya untuk menghasilkan hemoragik nekrosis otak, dan sel
darah merah sering tidak terdeteksi; dengan demikian, ada atau tidak adanya sel
darah merah tidak dapat digunakan untuk membedakan HSV ensefalitis dari kondisi
lain.
Penegakan diagnosis
Pemeriksaan
laboratorium rutin tidak begitu membantu
penegakan diagnosis kecuali identifikasi
agen virus. Pada pemeriksaan darah lengkap ada peningkatan limfosit
sebagai predominan . beberapa pemeriksaan untuk evaluasi meliputi CBC test
fungsi ginjal, dan liver,
Penegakan diagnosis
ditegakan harus secara cepat berdasarkan gejala klinis yang kadang dikaburkan
dengan penyakit penyebab panas lainnya atau dari intoksikasi.
Analisis CSF sangat
penting meliputi polymerase
chain reaction (PCR) karena pemeriksaan Magnetic resonance imaging (MRI)
hanya bisa mendiagnosis ensefalitis tetapi tidak dapat membedakan agen etiologi
virus.
Kultur darah dan kulit
Semua pasien curiga ensefalitis
dilakukan kultur darah untuk mengeluarkan penyebab bakteri dan jamur. Pada
kasus khusus diperlakukan kultur dari sputum, nasofaring, atau feses)
Biopsi kulit dapat
digunakan untuk seperti Rocky Mountain spottes fever dan biopsi kulit dalam
untuk pewarnaan axon sensoris pada kasus rabies.
Tes serologis
Bebeapa penyebab
ensefalitis dapat didagnosis dari deteksi serum antibodi IgM terutama
(varisella dan arbovirus)
Komplikasi
Komplikasi tersering
dari enfelitis virus antara lain infeksi saluran nafas dan saluran kencing,
komplikasi ini tergantung dari beratnya ensefalitis. Pada pasien yang recovery
akan ada bukti kerusakan dan kematian neuron yang menyebabkan defisit neurologi, penurunan keverdasan dan gangguan
psiaktri dan beratnya ini sangat
tergantung dari agen penyebab virus itu sendiri.
Sequel terjadi
30-40% pada pasien usia 5-40 tahun dan
meliputi gejala ekstra piramidal sindroma (khususnya distonia dan
parkinsonisme) kelemahan dan seizure. Sequel dilaporkan hanya 3-10% dari kasus
JE di Jepang.
Hiponatremia
berhubungan dengan sindroma of inappropiate antidiuritic (SIADH) sering terjadi
di ensefalitis St Loius. Komplikasi lain dehidrasi, komplikasi respiratori\,
infeksi nosokomial dan dekubitus.
Tatalaksana
Pemberian antiviral
sangat penting untuk memperpendek gejala klinis, mencegah komplikasi, mencegah
perpanjangan penyakit dan menurunkan angka kekambuhan, menurunkan penyebaran
transmisi dari virus itu sendiri.
Beberapa antivitral
yang bisa diberikan antara lain
-
Acyclovir
Acyclovir menunjukan
mampu menginhibisi aktifitas dari HSV-1 dan HSV 2, sebelum pemberian acyclovir
angka kematian encefalitis virus 60-70% menurun menjadi 30% paska pemberian
acyclovir, Acyclovir juga efektif untuk pengobatan ensefalitis VZV
Dosis
untuk herpes simpleks virus 10-15
mg/kg IV q 8 jam selama 10 hari ; kadang perlu diteruskan
sampai 14-21 hari
-
Ribavirin
Ribavirin
merupakan analog dari guanosine yang menginhibisi dari replikasi virus dengan
menginhibisi sintesis DNA dan RNA. Penelitian klinis ribavirin bermanfaat
mengobati infeksi arena virus,
Pasien
education
Edukasi dan informasi sangat penting untuk membantu
menegakkan diagnosis ensefalitis secara dini, khususnya daerah endemik, lesi HSV-2 muncul setelah infeksi primer dan
bisa menyebabkan ensefalitis . dokter
harus menyadari bahwa awal dari wabah bisa muncul kapan pun bisa tahunan
setelah infeksi.
Sumber:Modul infeksi
Komentar
Posting Komentar